Menghindari Gangguan Telemarketing lewat HP Telphone


Gimana sih rasanya lagi fokus nyelesain pekerjaan tiba-tiba telepon seluler berdering dan ternyata panggilan itu berasal dari sales yang nawarin kartu kredit atau kredit tanpa agunan? Konsentrasi buyar, rasa jengkel keluar.
Bukannya mau meremehkan profesi sales produk bank itu, ya, tapi memang harus diakui telemarketing sering mengganggu aktivitas sehari-hari. Orang bakal melakukan apa aja biar bisa menghindari gangguan telemarketing.
Coba deh buka obrolan di Facebook atau grup WhatsApp/BBM soal gangguan telemarketing. Dijamin obrolan laris kayak kacang goreng yang dijual di lapangan layar tancep.
Telepon telemarketing bisa kayak pacar yang ngingetin makan. Pagi, siang, malem, ada aja telepon dari telemarketing bank. Kalau lagi jomblo dan kesepian sih gak apa-apa. Bisa ngisi waktu dengan ngobrol biar gak galau, gitu.
Tapi kalau lagi serius-seriusnya kerja datang telepon telemarketing, yang ada kitanya ngeluh, marah, bahkan sampai mengeluarkan sumpah-serapah. Respons seperti itu gak perlu sebenarnya, karena telemarketing sebenarnya sudah dilarang di Indonesia jika dilakukan tanpa persetujuan kita yang ditelepon!
Jadi, kita bisa merespons gangguan telemarketer itu dengan kalem tapi mematikan: “Telepon Anda ini ilegal, bisa saya laporkan ke pihak berwenang!” Booom, pasti si telemarketer kalang-kabut. Biar lebih meyakinkan, sebutin aja aturan-aturan pemerintah yang melarang aktivitas telemarketing!

Larangan telemarketing
Kalau didata, jumlah keluhan soal telemarketing mungkin sama dengan jumlah curhatan galau di Facebook.
Aturan pertama adalah Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 1/POJK.7/2013. Aturan selanjutnya adalah Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor12/SEOJK.07/2014 yang merupakan peraturan pelaksana POJK Nomor 1/2013 tersebut.
Selain melarang telepon atau SMS penawaran produk dari bank atau lembaga keuangan lain, aturan dari OJK itu melarang aktivitas telemarketing freelance yang menggunakan nomor telepon seluler.
Melalui aturan itu, masyarakat diimbau melapor ke OJK di nomor telepon (021) 5006555 kalau ditelepon atau dikirim SMS dari telemarketer.

Gak cuma aturan dari OJK, Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik juga secara tidak langsung melarang telemarketing. Pasal 17h aturan itu menyatakan informasi pribadi, termasuk aset dan nomor telepon pribadi seseorang merupakan informasi yang dikecualikan, atau rahasia.
Jadi kalau tenaga telemarketing bisa tahu nomor telepon kita padahal kita gak pernah ngasi tahu, bisa kita laporkan ke polisi. Gak main-main, pihak yang membocorkan informasi pribadi ini bisa dijatuhi hukuman penjara hingga 2 tahun!

Hak nasabah
Ssst, gak perlu marah kalau ditelepon telemarketer. Omongin aja yang kalem soal aturannya, siapa tahu malah bisa sekalian digebet.
Berdasarkan aturan-aturan legal formal di atas, kita berhak menolak telepon telemarketing dan bahkan mengadukannya ke pihak berwenang. Dalam hal ini, kita bisa melaporkan lembaga keuangan tempat kerja telemarketer itu ke OJK biar dikenai sanksi.
Kalau kamu bingung dari mana pegawai telemarketing suatu bank atau lembaga keuangan lain bisa dapat nomor teleponmu padahal kamu gak pernah berhubungan dengan mereka, coba ingat apakah kamu pernah tanda tangan berkas dari bank tanpa membaca isinya dengan detail?
Bisa saja dalam berkas itu, misalnya formulir pembukaan rekening, ada keterangan “Menyetujui ingin mendapat penawaran dari pihak-pihak selain bank, yang menjadi partner resmi bank”. Kalau kita tanda tangan, artinya kita setuju menyebarkan nomor telepon kita.
Masalahnya, berkas yang memuat keterangan semacam ini wajib ditandatangani. Dalam kasus pembukaan rekening, bisa-bisa kita gagal bikin rekening karena menolak tanda tangan.

Nah, kalau menghadapi kasus semacam ini, sebutin aja aturan-aturan dari OJK dan UU Keterbukaan Informasi tadi. Nasabah sebagai masyarakat Indonesia sepenuhnya berhak menolak membuka informasi pribadi ke pihak mana pun.
Lebih enak kalau mengakses layanan perbankan lewat dunia online. Sebab penawaran atau promo tidak disampaikan lewat telepon, tapi lewat e-mail, sehingga gak begitu mengganggu.
Bagaimanapun promo juga butuh kita ketahui. Tapi di dunia online, kita juga harus mengecek kebijakan privasi situs terkait agar privasi kita tak terganggu.

Kemerdekaan dari gangguan telemarketing adalah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka penjajahan, eh, telemarketing ilegal harus dihapuskan.

Sebenarnya dulu OJK pernah melontarkan wacana membuat sistem “Do Not Call Registry” yang mengadopsi sistem serupa di Amerika. Melalui sistem itu, kita yang keberatan memberikan identitas pribadi untuk keperluan bank atau lembaga keuangan lain bisa mendaftar biar gak dihubungi telemarketer.
Sayangnya, wacana ini seperti mantan pacar yang dulu ninggalin karena digebet orang lain: lenyap gak ada kabar. Padahal sistem ini sangat berguna untuk masyarakat yang hendak menghindari gangguan telemarketing.

Jadi ingat, kita punya hak untuk tidak diganggu telemarketing. Dasarnya adalah hukum yang ditetapkan pemerintah, sehingga sangat kuat. Tak perlu ragu mempermasalahkan gangguan itu ke pihak telemarket. Jika perlu, adukan ke lembaga berwenang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please do not Spam, We will report your account to Google and add it as Spammer. Thanks

Kuta Dana Mitra feeds