7 Sebab Pengajuan KPR Ditolak dan Bagaimana Solusinya



Pengen tahu kenapa pengajuan KPR Anda ditolak bank? Padahal Anda merasa sudah memenuhi semua persyaratan KPR. Penulis akan merangkumnya dalam 7 poin mengapa pengajuan KPR Anda ditolak dan bagaimana tips mengatasinya.

1. Terkendala “BI Checking”
Apakah BI Checking itu?
BI Checking atau lebih tepatnya disebut sebagai IDI Historis (Informasi Debitur Individual Historis) merupakan produk/output yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia. IDI Historis mencakup informasi seluruh penyediaan dana/pembiayaan dengan kondisi lancar dan bermasalah mulai dari Rp.1 keatas, serta menampilkan informasi mengenai historis pembayaran yang dilakukan dalam kurun waktu 24 bulan terakhir.

Cakupan IDI Historis meliputi antara lain identitas debitur, pemilik dan pengurus, fasilitas penyediaan dana/pembiayaan yang diterima, agunan, penjamin, dan kolektibilitas (http://www.bi.go.id/id/moneter/biro-informasi-kredit/idi-historis).
Perlu kita ketahui bahwa setiap bank atau lembaga keuangan (yang terdaftar di Bank Indonesia), pasti melaporkan data setiap debiturnya (nasabah kredit) kepada Bank Indonesia.

IDI Historis tersebut menjadi acuan pihak bank untuk menilai calon debitur KPR, baik dari segi karakter maupun kemampuan bayar. Jadi, jika selama ini debitur pernah atau masih memiliki pinjaman di bank, akan kelihatan apakah selama ini debitur lancar dalam membayar angsuran, kurang lancar, atau malah kredit macet.
Bank pasti akan menolak pengajuan KPR anda jika pernah mengalami kredit macet. Sedangkan bagi yang riwayat cicilannya kurang lancar, Anda masih punya peluang (dalam hal ini, tiap-tiap bank memiliki pertimbangan yang berbeda).

Lalu bagaimana jika pengajuan KPR ditolak karena kendala BI Checking.
Nah, berikut tipsnya :

- Bagi Anda yang masih memiliki tunggakan cicilan (kartu kredit, kredit kendaraan bermotor, kredit pegawai, kredit usaha, dsb.) segeralah dibayar, jika mampu melunasi lebih baik.

Oya, lupa saya sampaikan di atas, BI Checking tidak hanya melihat track record calon debiturnya saja, tapi juga track record pasangan (suami/istri). Jadi tips selanjutnya;

- Pastikan pasangan Anda (suami/istri) tidak memiliki tuggakan cicilan kredit, jika ada ya tentu saja juga harus dibayar/dilunasi.

- Nah, bagi Anda yang pernah mengalami kredit macet harap bersabar, karena seperti syair lagu “Hanya waktulah yang akan menjawabnya...” :)

Maksudnya begini, tiap bank memiliki kebijakan masing-masing terhadap calon debitur yang pernah mengalami kredit macet. Bahasa gampangnya, akan ada “pemutihan” dalam kurun waktu tertentu. Sambil menunggu, Anda bisa mencoba mengajukan kredit apa saja dengan plafon kecil di bank dan tentu saja Anda harus lancar membayar cicilannya. Tujuannya untuk memulihkan nama Anda di BI Checking dan menumbuhkan kepercayaan bank jika mengajukan plafon pinjaman yang lebih besar (KPR)


2. Tidak tersedia Uang Muka/DP yang cukup
Mengacu pada Surat Edaran (SE) BI No. 15/40/DKMP tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit atau Pembiayaan Pemilikan Properti (mohon dikoreksi jika salah), bahwa secara umum pengajuan KPR yang pertama kali (karena ada juga pengajuan KPR yang kedua kali, dst.) debitur KPR harus membayarkan DP (down payment) minimal sebesar 30% dari harga rumah.

Bagaimana jika tidak tersedia dana DP sebesar 30%? Silakan dicoba beberapa tips berikut :
- Cobalah meminjam dana kepada kerabat terdekat, misalnya ke orang tua atau mertua, selain karena faktor kekeluargaan tentu saja juga karena tidak ada bunga pinjaman :)
- Menjual barang berharga milik pribadi misalnya perhiasan emas, jangan merasa sayang, karena seperti halnya emas, rumah juga merupakan investasi yang tepat.
- Menjual asset yang tidak produktif, misalnya anda memiliki 2 mobil, jual salah satu yang jarang dipakai.
- Menunda keinginan membeli rumah lewat KPR, cobalah lebih giat menabung sampai jumlah tabungan Anda cukup untuk membayar DP rumah.

3. Tingkat kemampuan bayar tidak sesuai
BI Checking lolos, DP 30% tersedia, tapi pengajuan KPR masih ditolak? Jangan sedih dulu, coba dikonsultasikan dengan pihak bank. Ada kemungkinan harga rumah yang akan Anda ajukan KPR terlalu tinggi bagi kemampuan membayar cicilan Anda (saat ini) walaupun tempo pinjaman sudah dimaksimalkan 15 tahun. Bisa juga karena Anda meminta tempo yang terlalu pendek, jadi jumlah cicilan per bulan Anda dinilai tidak sesuai kemampuan. Hal-hal berikut ini silakan dipertimbangkan :

- Pilihlah rumah dengan harga yang sesuai kemampuan Anda, utamakan kebutuhan alih2 prestise
- Ambil tempo KPR yang lebih panjang, jangan takut akan terlalu lama berhutang, berkerjalah lebih giat, siapa tahu di tengah jalan pekerjaan atau bisnis Anda menanjak sehingga Anda bisa mengajukan PELUNASAN DIPERCEPAT. Walaupun akan ada penalty (denda) pelunasan dipercepat, masih lebih baik daripada terus membayar bunga, bahkan bukan tidak mungkin Anda negosiasi dengan pihak bank mengenai besaran penalty.
- Bagi profesional (dokter, pengacara, dsb.) maupun pengusaha, mungkin Anda perlu memperbaiki laporan keuangan Anda. Barangkali ada income yang belum tercatat, dan jangan lupa barangkali pasangan (suami/istri) Anda juga memiliki sumber penghasilan lain yang bisa Anda laporkan juga ke pihak bank (join income). Jangan segan minta saran/bantuan marketing KPR mengenai laporan keuangan ini.

4. Masa kerja belum cukup lama
Umumnya bank memberlakukan syarat minimum 2 tahun masa kerja (bagi pegawai tetap) atau 2 tahun lama usaha berjalan (bagi profesional dan pengusaha). Jika syarat ini belum dapat dipenuhi cobalah melakukan negosiasi dengan pihak bank, buktikan jika cash flow Anda positif, mintalah surat rekomendasi dari instansi dari tempat Anda bekerja, jika tetap mentok jangan patah semangat, Anda bisa coba pengajuan KPR ke beberapa bank sekaligus karena masing-masing belum tentu memiliki kebijakan yang sama.

5. Usia calon debitur melebihi ketentuan
Bank memberlakukan syarat usia bagi calon debitur, yaitu usia maksimal nasabah pada saat cicilan berakhir antara 55 tahun – 65 tahun (sesuai dengan aturan masing-masing bank).
Sebagai ilustrasi, bank A memiliki syarat usia maksimum debitur saat KPR berakhir adalah 60 tahun, saat ini usia Anda 55 tahun, maka Anda tetap bisa dibiayai KPR tapi dengan tempo maksimal hanya 5 tahun.

6. Kavling siap bangun tidak dapat dibiayai oleh Bank
Ya benar, bank tidak bisa membiayai rumah yang statusnya masih tanah kavling siap bangun alias rumah harus jadi dulu 100% baru bank bersedia membiayai lewat KPR. Terus bagaimana ini, padahal seluruh syarat debitur sudah dipenuhi dan Anda sudah jatuh cinta dengan lokasinya. Kembali lagi ke tips “negosiasi” ke pihak bank, jika tidak berhasil berdasarkan pengalaman penulis membantu pengurusan KPR, masih ada bank yang bersedia membiayai KPR kavling siap bangun, tentu saja pencairan dananya dengan metode termin/bertahap sesuai dengan progres pembangunan rumah objek KPR tersebut.
Untuk perumahan yang developer-nya terikat perjanjian kerjasama KPR dengan salah satu bank, kavling siap bangun tidak masalah, Anda tetap bisa mengajukan permohonan KPR kavling yang Anda minati, yang tentunya harus melalui bank rekanan developer tersebut.

7. Rumah objek KPR tidak/kurang layak sebagai jaminan
Sebelum mengajukan KPR, pastikan rumah yang akan Anda beli tersebut tidak termasuk pada salah satu kategori jaminan yang ditolak bank berikut :

- rumah terlalu dekat atau berada di bantaran sungai,
- rumah terlalu dekat atau bersebelahan dengan makam,
- rumah berlokasi di kawasan rawan bencana,
- tidak memiliki akses jalan yang sesuai persyaratan objek jaminan KPR

dan sebagainya yang intinya adalah hal-hal yang bisa mengurangi nilai jual objek rumah, serta bank akan kesulitan untuk melelang rumah tersebut apabila di kemudian waktu terjadi kredit macet. Lalu yang harus Anda lakukan? Saran saya, jangan beli rumah tersebut J

Masak sih mau beli rumah di makam dan/atau sungai? Dari sisi investasi tentu kurang bijaksana. Kecuali Anda memiliki pertimbangan lain, dan sampaikan ke bank tempat Anda mengajukan KPR. Misalnya rumah tersebut di sebelah makam, akan tetapi lokasinya di tepi jalan raya di kawasan wisata/bisnis, tentu saja rumah tersebut memiliki nilai yang tinggi.
Atau seperti yang pernah dialami penulis, sebagai agen saya pernah memasarkan rumah dijual di perumahan yang berlokasi dekat dengan lembah yang dialiri sungai kecil. Lokasinya memang menarik, udaranya sejuk, bahkan lembah/sungainya menambah asri pemandangan, tetapi sewaktu klien saya mengajukan KPR ke salah satu bank, ditolak dengan alasan dekat dengan sungai. Kemudian saya coba ajukan ke bank lain, dan hasilnya KPR acc :)

Tidak ada salahnya mengajukan permohonan KPR ke beberapa bank sekaligus, selain karena faktor appraisal, Anda juga bisa membandingkan besarnya angsuran tiap bulannya, serta penawaran menarik lain dari tiap-tiap bank (misalnya bunga flat, free biaya provisi, dsb.).

Dalam artikel ini, penulis tidak mencantumkan daftar persyaratan KPR yang berkaitan dengan berkas/dokumen yang diperlukan, walaupun bisa saja menjadi sebab KPR ditolak jika berkas belum lengkap, tapi itu sangat jarang terjadi. Daftar persyaratan berkas/dokumen KPR bisa diperoleh di brosur/leaflet yang disediakan di setiap bank. Marketing KPR pasti mengingatkan Anda jika ada berkas/dokumen yang kurang, bahkan sebagian marketing siap membantu pengurusan berkas/dokumen Anda jika ternyata belum punya (seperti Surat Keterangan Usaha, laporan keuangan, dsb.). Sebagai warga negara yang baik, persyaratan seperti KTP, KK, NPWP, ijin usaha, dsb. tentu sudah harus kita miliki, walaupun tidak sedang mengajukan kredit bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please do not Spam, We will report your account to Google and add it as Spammer. Thanks

Kuta Dana Mitra feeds